Terima Kasih, Kak Belva

Sumber: Google


Hai, selamat membaca kembali. Ini tentang aku dan mimpiku.

:)

Sejak kecil, orang-orang dewasa selalu bilang pada saya bahwa bermimpilah setinggi mungkin. Tapi, semakin saya tumbuh besar dan terus mendekati dewasa, kalimat yang dahulu indah itu hanya seperti kalimat nina bobo pengantar tidur bagi anak kecil.

Sekarang setiap saya mengulangnya, bukankah dulu orang-orang dewasa bilang bahwa saya harus memiliki impian yang tinggi, justru saya dihadapkan pada pemikiran realistis yang seakan meniadakan kalimat indah itu. Realistis yang menciptakan kemungkinan-kemungkinannya sendiri padahal kita tahu ada yang ajaib di atas sana. Apa saja impian itu, selama bukan memakan kepala sendiri, saya kira masih ada kemungkinan terjadi.

Saya tidak mengerti, mengapa semakin bertambah usia, dan semakin besar impian itu, saya selalu dipatahkan dengan realita bahwa, "Siapa kamu sampai punya impian begitu."

Tentu saja, saya bukan siapa-siapa.

Tapi, saya tak berhenti percaya dengan mimpi-mimpi besar saya. Saya mencari, mencari apa saja yang membuat saya harus selalu yakin pada pilihan saya. Dan seringkali keyakinan itu didapat dari orang-orang di luar sana. Orang-orang yang belum pernah saya kenalan dengannya. Orang-orang yang telah lebih dulu menaklukkan impian gila-nya dan membuktikan pada dunia bahwa tidak ada satu pun impian yang terlalu tinggi.

Saya juga tahu, saya juga berpikir sepanjang saya masih bisa berpikir. Ketika saya memiliki impian, saya harus memiliki rencana menggapainya. Dan seharusnya, saya tahu ketika saya diragukan akan impian gila itu oleh orang lain. Seharusnya saya bisa balas saja dengan mengatakan, "Justru karena saya bukan siapa-siapa, saya ingin mencari tahu apakah saya bisa menjadi siapa-siapa yang saya impikan."

Dan saya telah menemukan, orang-orang yang percaya pada mimpi-mimpi saya.
Orang-orang yang selalu bilang, "Tidak masalah bila tak tergapai, setidaknya sudah berani."

Salah satu dari mereka adalah Adamas Belva Syah Devara.

Sosok yang akhir-akhir ini hangat di telinga kita. Anak muda yang agak 'gila' dengan mimpi-mimpi 'gila'-nya.

Tentang bagaimana kita harus percaya pada diri sendiri lebih dulu, tentang keberanian mengatakan, "Saya pasti boleh dan bisa." Iya, saya boleh bermimpi dan bisa mewujudkannya.

Pencapaian-pencapaian hebat Kak Belva yang terangkum menjadi sejarah untuk dirinya sendiri. Maka, kenapa saya tidak boleh memiliki sejarah bagi diri saya sendiri. Dan berjalan dimulai dari merangkak dulu, bukan?

Bagi saya, semua orang harus memiliki impian biar tidak seperti daging berjalan tanpa nyawa.

Kalau saya berpikir, orang yang akan patah hati adalah orang yang menaruh harapan, maka bolehkah saya ganti dengan orang yang tak pernah merasa sakit bisa jadi tak pernah hidup. Kita butuh harapan, pun rencana. Soal akan patah atau tidak, itu di luar kendali kita sebagai manusia, bukan?

Saya hanya ingin menyampaikan, terima kasih telah mengerti dan setuju bahwa setiap orang boleh memiliki impian gila-nya masing-masing. Terima kasih Kak Belva. Ini tidak hanya tentang semangat, tapi lebih dari itu.

Suatu saat saya bisa berjalan dengan kaki saya sendiri.

:)

Oh iya, selebihnya tentang Kak Belva bisa sowan di InstaInst pribadinya @belvadevara ya :)

Terima kasih sudah membaca, jangan lupa komen.

Komentar

Postingan Populer