Siapa Kita?


Siapa kita sebenarnya? Sekalipun dilabeli paling kuasa di dunia. Marahkah, bila ada yang mengatakan bahwa kita hanya setetes air dari seluruh air di dunia?

Jangan marah ya, karena sehebat apapun kita, tetap sebatas manusia. Kita punya keterbatasan.

Pernahkah kita berpikir bahwa sepuncak apapun kita berada, masih ada puncak yang lebih tinggi. Tuhan yang selalu menduduki puncak tertinggi itu.

Baiklah, boleh kukatakan bahwa: "Kesombongan adalah mengerdilkan diri yang nyata dan mengerikan."?

"Mengapa begitu?" tanya seseorang.

Lalu, aku akan bertanya, "Kenapa kamu menanyakannya?"

Boleh aku memberi gambaran sederhananya?

Begini...

Mari kita jabarkan rentang angka dari 0-1, maka kita memperoleh banyak sekali angka, diantaranya 0,1 ; 0,2 ; 0,0002 ; 0,0000000000009 ; ...

Sanggupkah kita meneruskannya?

Tidak akan sampai, teman-teman. Kemampuan kita terlalu kerdil untuk menyebutkan semua angka itu.

Tunjuk orang paling genius di muka bumi, bisakah dia menyebutkan angka di antara 0 dan 1?

Tidak ada kemutlakan yang bisa kita ciptakan, kita hanya bisa menggantinya dengan teori relativitas. Juga dengan titik tiga di matematika sebagai tanda bahwa ada sesuatu di luar jangkauan manusia.

Lalu, untuk apa kita berusaha kalau pada kenyataannya hanya sekecil itu. Lalu, sekecil apa kita kalau tidak mau berusaha?

Pada intinya, kita tidak pernah menjadi siapa-siapa. Hanya manusia yang kemudian tumbuh dan berkembang atas kehendakNya.

Tapi, Tuhan akan menumbuh kembangkan kita sesuai dengan apa yang kita ikhtiarkan. Seperti seorang petani yang menggarap sawah kemudian memanen padi. Tidak cukup dengan mempunyai sawah, tapi harus ada bibit padi, pupuk, pengairan, dan lainnya.

Begitulah kita, jika hanya bermodal nyawa dan raga tanpa usaha. Maka, seperti lahan kosong yang tak akan pernah memanen apapun.



Aku,
Wangi Tinta

Komentar

Postingan Populer