Jangan Paksa Orang Lain Menjadi Seperti Apa yang Kita Inginkan
Pernah mendengar tiga istilah ini?
Introvert, Ekstrovert, dan Ambivert.
Kalau sudah pernah dan memahaminya, boleh langsung skip. Tapi, kalau belum, bisa dibaca dulu garis besar tentang ketiganya. Ketiganya adalah rangkuman dari website psyline.id yang ditulis oleh Riswandi Alekhine.
1. Introvert
Kepribadian introvert cenderung menyukai kondisi yang tenang, senang menyendiri, reflektif terhadap apa yang mereka lakukan. Mereka memiliki kecenderungan untuk menjauhi interaksi dengan hal-hal baru.
Seseorang introvert sangat senang untuk melakukan aktivitas yang bersifat soliter (dapat di lakukan sendirian tanpa bantuan orang lain). Kegiatan tersebut seperti menulis, membaca, mengoperasikan komputer, menonton film, memancing dan lain sebagainya.
Salah besar jika kita mengira bahwa seorang introvert adalah orang yang pemalu. Karena, orang yang introvert lebih senang untuk melakukan kegiatan sosial mereka sendiri. Tetapi mereka tidak segan untuk melakukan interaksi sosial dengan orang lain.
Sedangkan orang yang pemalu, mereka merasa berat atau segan untuk melakukan interaksi sosial. Terutama dengan orang-orang yang tidak mereka kenal. Walau tidak dapat dipungkiri, banyak orang introvert itu pemalu.
2. Extrovert
Pengertian extrovert adalah kebalikan dari introvert. Jika introvert lebih senang menyendiri, maka seseorang extrovert lebih menyukai lingkungan yang interaktif. Mereka cukup antusias dalam hal baru dan senang bergaul.
Sebaliknya jika mereka berada dalam keadaan sendiri bagi mereka adalah sesuatu yang membosankan.
Mereka yang extrovert biasanya lebih bisa menyesuaikan diri dan bekerja sama dengan baik dalam sebuah komunitas atau organisasi sosial.
3. Ambivert
Ambivert adalah kepribadian yang istimewa, ia seorang introvert dan juga bisa menjadi extrovert. Ada seseorang yang terlahir langsung dengan kepribadian ambivert. Umumnya seorang ambivert lebih cenderung mendominasi dari kelemahan introvert dan extrovert.
Ambivert memiliki sisi kepribadian introvert dan extrovert yang seimbang. Dengan demikian seseorang yang ambivert cenderung merasa nyaman dengan kondisi yang penuh dengan interaksi sosial. Mereka juga dapat menikmati kondisi saat mereka sendirian atau jauh dari keramaian.
Dengan adanya dua sisi kepribadian yang ada di dalam diri mereka, kelebihan di antara keduanya dapat dioptimalkan. Seorang ambivert lebih berhasil dalam menjalani kehidupan bersosial.
Itu dia garis besarnya. Semoga kalian memahami ya. Kalau masih ingin penjelasan lebih rinci silakan kunjungi website psyline.id saja :)
Lalu ini dia yang ingin saya bahas, here we go!
Tidak perlu bertanya seperti ini pada orang lain:
Pertanyaan A:
"Kamu kok beda ya sama (seseorang) dia bisa (sesuatu)."
Pertanyaan B:
"Saya lebih suka kalau kamu se(sesuatu) seperti (seseorang)"
contoh:
"Kamu kok beda ya sama dia, dia bisa seasyik itu."
"Saya lebih suka kalau kamu sehumoris seperti dia."
Jujur saya pernah tidak menjadi diri saya hanya agar terlihat "seasyik" itu bagi orang yang menginginkan saya "seasyik" dia (orang lain). Awalnya saya bisa, tapi lama-lama diri saya tidak bisa berbohong. Saya tidak bisa menjadi "orang lain". Lalu kenyamanan itu berubah menjadi ketidaknyamanan karena saya telah salah langkah dan mengira menjadi "orang lain" itu bisa menciptakan kenyamanan untuk orang yang menginginkan saya seperti apa yang mereka harapkan. Dan ternyata, menjadi apa adanya kita adalah keputusan paling tepat.
Saya hanya ingin sampaikan, ini pengamatan dan pengalaman saya selama bertemu dengan orang-orang yang saya tahu namanya tapi belum pernah bertemu dalam sebuah "percakapan", dia menanyakan sesuatu yang lebih kepada penghakiman. Mengapa penghakiman? Karena hampir semua first impression atau kesan pertama saat bertemu dengan saya, dia membandingkan saya dengan orang lain, tidak tentang hal buruk juga sih hal baik pun termasuk. Bagi saya, pertanyaan penghakiman seperti itu tidak perlu dilayangkan apalagi kepada orang yang baru bertemu dalam sebuah "percakapan".
Karena faktanya, tidak semua orang yang kita ajak bicara memiliki kepribadian yang sama dengan kita atau kepribadian yang kita inginkan. Nah, pertanyaan B itu seakan menghakimi kekurangan orang yang diajak ngobrol hanya karena awalnya kita mengira bahwa dia adalah orang yang humoris dan berharap dia membuat kita nyaman dengan kehumorisan yang dia miliki.
Jangan pernah berharap lebih kepada orang lain, apalagi orang yang baru kita kenal. Jangan berharap dia akan seperti apa yang kita duga, apa yang kita inginkan. Karena bisa jadi apa yang sebenarnya dia adalah apa yang membuat kita kecewa.
Mengapa saya menjelaskan di awal tentang introvert, ekstrovert, dan ambivert? Jawabannya karena manusia itu memiliki kepribadian yang berbeda-beda, bahkan dua orang yang sama-sama ekstrovert juga tidak memiliki "cara" yang sama untuk menunjukkan ke-ekstrovert-annya kepada orang lain. Apalagi dua orang yang berbeda kepribadian, yang satu introvert dan satunya ekstrovert. Intinya, introvert tidak bisa dipaksa menjadi ekstrovert dan sebaliknya. Karena lebih baiknya perbedaan itu saling melengkapi dan mendukung, bukan menghakimi lalu memaksa.
Faktanya, tidak ada orang yang 100% Introvert atau 100% extrovert, yang membedakan hanya apa yang mendominasi di antara keduanya. Tidak ada yang sempurna menjadi introvert ataupun ekstrovert ataupun ambivert. Tuhan tidak akan pilih kasih, makanya perbedaan selalu ada untuk disikapi dengan bijaksana.
Benar kata orang bijak, seharusnya perbedaan membuat kita menjadi terlengkapi satu sama lain. Bayangkan jika di dunia ini hanya ada orang introvert, mungkin dunia terasa terlalu serius tanpa gurauan. Bayangkan jika di dunia hanya ada orang ekstrovert, mungkin dunia terasa tidak nyata karena penuh dengan gurauan. Bayangkan jika dunia hanya ada orang ambivert, mungkin dunia akan sangat membosankan tanpa adanya singgungan.
Kesimpulannya, menimbang apa yang akan kita ucapkan kepada orang lain adalah sesuatu yang penting.
Mohon maaf kalau saya salah. Saya bukan orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Saya juga meminta maaf apabila pernah melakukan hal yang sama, yang "tidak menyenangkan" seperti yang saya rasakan hehe. Pendewasaan itu selalu butuh waktu, bukan?
Terima kasih sudah berkenan membaca. Semoga setia berkunjung esok hari ya.
Mari tulis di kolom komentar tentang apa saja yang ingin kamu sampaikan tentang blog kali ini.
Saran dan kritik adalah perbaikan, silakan jangan sungkan.
Boleh juga untuk merekomendasikan topik apa yang ingin dibahas di blog selanjutnya.
Salam semanis madu, atau mungkin lebih manis dari itu
Aku,
Wangi Tinta
Wangi Tinta



Komentar
Posting Komentar