Filantropi
![]() |
| Sumber: dokumentasi pribadi |
2018 adalah tahun di mana aku merasa lebih bisa memaknai hidup dengan cara yang lebih sederhana. Banyaknya peristiwa yang terjadi, suka duka menyelimuti. Namun, kehadiran orang-orang di setiar membuatku tak gentar dan berpikir untuk selalu mengarungi arus derasnya kehidupan. Ini tidak hanya tentang hasil-hasil yang besar, melainkan kerja keras setiap langkah yang membawa kebaikan, membantu sesama. Keikhlasan, kesederhanaan, kebaikan. Ini tentang segenap jiwa yang menuntun raga berjalan di atas awan yang membumbung di atap bumi, berjalan penuh kehati-hatian sambil menikmati keindahan yang telah Tuhan ciptakan. Inilah perenungan. Tentang segala sesuatu yang lahir dari hati.
Sea Games 2018, Asian Para Games 2018 merupakan peristiwa yang melekat sebagai kenangan indah dan lahirnya harapan-harapan baru yang lebih hebat bagi bangsa Indonesia. Karena dunia penuh dengan sesuatu yang harus direnungkan, maka inilah renungan yang aku dapatkan dari peristiwa yang kelak mengukir pohon-pohon sejarah dengan akar paling kokoh yang selalu tumbuh dan dirawat dengan tulus. Kita hanya perlu merenung dengan akal sehat dan hati yang waras. Mengakui betapa kebahagiaan adalah alasan mengapa kita harus berjuang. Ini tentang hidup. Ini tentang harapan dan menjadikannya bukan sekadar angan.
Sebuah puisi ini, semoga kau suka dan mau memaknai.
FILANTROPI
![]() |
| Sumber: dokumentasi pribadi |
Di dunia, banyak sekali kasih sayang yang tersemat di dinding-dindingnya. Tak terbilang dari mana saja asal mereka. Juga sebuah negeri yang gusar lalu ditenangkan oleh penghuninya sampai ia setenang air dalam botol. Percaya atau tidak, semangka yang besar nan merah merona lahir dari rahim biji yang mungil. Mengapa tak hargai sebutir keringat yang lahir dari dada merah putih negeri ini? Mereka yang luput dari penghargaan, terkadang terdampar di jurang penuh tatapan tak suka dan hinaan tak beradab.
/i/
Bagaimana ketika langit tak ada matahari? Tanya hening Sang Pendoa—melangit sukma dalam kata diiringi alunan rintik dalam kekhusyukan.
Kau pinta pada langit, melolong sepanjang titik sunyi Bumi. Adakah matahari muncul dari bola matanya?
Hening, angin, melolong kesejuta kali.
Ia hanya sedang memanah dengan busur doa—target yang berada di atas sana.
/ii/
Bagaimana ketika jalan protokol tak ada suara se-pelan-pun?
Tanya risau para pejalan kaki kepada Abang tukang kerak telor di trotoar
—“mati,” jawabnya.
Lalu, kepada siapa lampu merah mengabdi?
Biarkan jalan protokol tak pernah sunyi—Pak Polisi biar sibuk ke sana-ke mari.
/iii/
Bagaimana ketika pohon tak memiliki angin?
“Kasihanilah aku, wahai!”—Pak Sapu Jalanan mengaduh.
Anaknya empat hendak ke sekolah, dihantarkan oleh Ibunya yang layu.
Doa si bungsu: Semoga angin mengombang-ambingkan dedaunan di sepanjang jalan,
biar sepulang sekolah makan ayam!
/iv/
Bagaimana ketika metromini tak bersupir?
Oh mungkin karena tak punya kemudi! Atau ban belakang sedang bocor.
“Goceng, Neng!”
Ditanya Nona itu, Hendak ke mana?
Nonton turnamen bulu tangkis.
Jalan penuh, lebih penuh bila supir mati atau metromininya mogok,
Ibu Kota: berlayar menuju kemajuan, tak lupakan kearifan.
/v/
Tapi ia hidup mewangi di perut bumi,
aromanya tercium penduduk kerak
yang berbondong-bondong menanti kelahiran.
Rahim tak pernah ingkar janji
Lahirlah pandu berdarah merah putih
Ketika lahir
bukan senyum yang lahir, tapi
dera duka
Neneknya nangis darah, ibunya bertakwa—katanya tak apa-apa;
ketika bayinya masih tertidur dalam gendongan kain sutera
air matanya leleh lebur bersama wangi yang sedang ditimang—bangga!
Ia melepaskan diri dan berlari
Kakinya tidak melangkah tapi berputar
Tangannya tidak sepuluh jari, ia tersenyum!—ibunya tersenyum.
Kemudian matahari keluar dari sela sela jari kakinya yang hanya bisa dilihat oleh ibunya, ia tidak apa-apa.
Ternyata merah putih yang lahir bersama bayinya
memenjarakan orang-orang hina tutur kata dan tatapan
Ia hidup dengan kerendahan hati
sampai mati
Kakinya yang memiliki matahari berputar lebih cepat dari kaki neneknya,
dari kaki ibunya, dari kaki ayahnya, dari kaki kuda pacuan.
Demi merah putih yang mewarnai tubuhnya
ia sarapan, makan siang, makan malam, tidur cukup
“Aku karena Ibuku,” katanya pada wartawan.
/vi/
Kepada lain-lain yang tak bisa disebutkan
yang juga menginginkan negeri merah putih tak terdampar
di ujung tanduk—tak menginginkan perpecahan
suka bertabiat santun,
ketulusan tanpa pamrih.
Kepadamu, kawan, garda garuda bersemayam
mengawal negeri mendobrak gembok kengiluan
setitik peluh tak habisi besi sampai karatan
tapi bersama, gembok itu lumutan hingga terlepas pengaitnya
keluarlah kita bersama kejayaan
Hargailah apa pun itu!
------
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa berikan komentar karena tak kan pernah ada yang sempurna pada sebuah karya.




Puisinya bagus-bagus. :))
BalasHapusMakasih, Kak :)
HapusIya keren, cuma sayang telat nih setor nya
BalasHapusTerima kasih, Kak. Enggak kok udah isi Google Form dulu sebelum di-share di grup WA :)
Hapus