Ketika Kamu Diremehkan
Pernah?
Sebuah pertanyaan yang diawali oleh kata-kata dalam judul di catatan kali ini.
Bagaimana perasaanmu ketika diremehkan? Baper? Perih?
Yep, absolutely it is normality.
Itulah mengapa penting sekali menjaga perkataan sebelum akhirnya bisa diterima oleh orang lain.
Kawan, kita tak pernah tahu kehidupan yang sesungguhnya dan seutuhnya milik orang lain. Kita tak pernah tahu apakah yang nampak pada dirinya tak memiliki catatan kurang menyenangkan atau bahkan gelap. Kita tak pernah tahu, apakah ia sedang dalam kondisi hati yang baik. Kita tak tahu, apakah hasil yang ia capai memiliki pengorbanan yang bahkan akan membuat orang yang tahu tak percaya ia bisa melakukannya.
Banyak sekali yang tak kita ketahui, sehingga kita juga bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Banyak sekali ketidaktahuan yang menjadikan kita tak pantas merendahkan dan meremehkan orang lain. Banyak sekali kekeliruan yang sering kita alami karena kita lebih suka melihat apa yang tampak tanpa mencari tahu ada apa di balik itu semua.
Ketika kawan lama saya bertanya,
"Kamu kuliah di situ? Enggak salah?"
Can I say, 'What the h*ll, guy?'
Maaf, tapi kalimat itu membuat hati saya sakit. Meskipun kenyataannya saya hanya bisa menjawab, "Iya, hehe."
Kenapa? Kenapa kalimat itu harus terlontar dengan mudah tanpa ia menyadari bahwa akan ada hati yang patah tiba-tiba. Tidak, tapi iya, saya memang sensitif. Tapi, bukankah sensitivitas adalah nyawa dari kehidupan? Berbagai macam emosi yang kita miliki, adalah bukti bahwa kita masih hidup.
Saya masih bisa memaklumi, karena kamu berharap saya berada pada tempat yang lebih baik, bukan? Tapi, bukan begitu caramu menunjukkannya. Pun saya tak menginginkan pujian.
Kenapa? Kenapa setelahnya ia juga tak menyadarinya? Padahal ia sama sekali tak tahu bahwa ada makna di balik apa yang saya capai.
Begitulah kehidupan, karena tak hanya hal baik yang kita terima, tapi sesuatu yang pahit akan melatih kita untuk lebih bijaksana.
Jadi, jika ia memang tak masalah dengan kalimat yang telah menyakiti hati saya, maka tugas saya untuk memakluminya. Untuk memaafkannya.
Ini hal kecil, bahkan sesuatu yang mungkin hanya sebagai debu dalam pasir, terabaikan. Tapi, seringkali manusia tak bisa baik-baik saja saat diperlakukan seperti itu, bukan?
Salinglah menjaga perkataan, karena yang menurut kita biasa belum tentu biasa bagi orang lain.
Maaf bila saya keliru, tapi saya hanya menuliskan apa yang ingin saya tuliskan. Maaf apabila saya pernah menyakiti hati kalian dengan kalimat yang tak saya pikirkan ulang terlebih dahulu untuk dikatakan.
Semoga ucapan kita senantiasa kita jaga.
©Wangi Tinta



Komentar
Posting Komentar