Wajahmu Ketika Tenggelam


Aku tidak suka perpisahan. Tidak ada perpisahan yang menyenangkan. Tetapi aku beruntung karena tanpa kacamata, dunia menjadi buram. Aku tidak perlu melihat wajahmu saat tenggelam dari pelupuk mataku. Karena meskipun kamu meninggalkan senyuman, aku benar-benar tidak ingin melihatmu pergi.

***

Sekali lagi aku berkawan dengan perpisahan. Suatu klimaks setelah perjumpaan yang berlangsung beberapa waktu, mengukir cerita yang kemudian menjadi sejarah.

Sekali lagi aku bertemu denganmu kemudian kau raib, tidak tapi kau pamit. Sementara, katamu.

Perpisahan. Ialah permulaan yang menciptakan pertemuan. Pun sama, pertemuan adalah awal dari perpisahan. Keduanya selalu disandingkan.

Aku tahu, mengapa perpisahan dan pertemuan saling berkawan baik. Mereka adalah ketetapan yang telah Tuhan tetapkan. Maka, seperti yang seseorang bilang, "Tergantung bagaimana kita menyikapinya."

Bukankah seperti yang kukatakan tadi? Bahwa saat kita bertemu, kita telah menerima konsekuensi untuk berpisah suatu waktu. Saat kita berpisah, masih ada kemungkinan untuk bertemu kembali.

Semua itu adalah fase. Fase yang membuat kita tumbuh menjadi dewasa. Tidak ada yang bisa kita pertahankan selamanya. Tidak ada yang bisa kita jadikan harapan selamanya.

Kita tidak bisa mempertahankan pertemuan saat Tuhan tak lagi merestui. Kita tak bisa terus mengharapkan pertemuan saat Tuhan mengingatkan kita untuk berhenti.

Seperti ketika aku membuka buku baru. Aku berjumpa dengan halaman pertama, memasuki halaman seterusnya, hingga akhirnya tiba di halaman terakhir. Semua telah ditakdirkan untuk memiliki awal dan akhir.

Seseorang memberitahuku, "Jika kamu takut dengan perpisahan, maka kamu tak akan pernah menemukan pertemuan."

Bagaimana ketika pertemuan itu terjadi? Nikmatilah! Berbahagialah dengan cara yang baik. Lakukan apa saja yang membuat dirimu lebih hidup, tentu apa saja yang baik. Karena terkadang kita tergiur dengan sesuatu yang semu hanya karena kesemuan itu terlihat nyata dan menyenangkan.

Dalam hidup kita dipertemukan dengan pilihan-pilihan yang memiliki dua kemungkinan, harus kita pilih salah satunya, atau tidak memilihnya sama sekali. Kita tak bisa memiliki keduanya, karena kehidupan kita memiliki porsi yang terbatas.

Lalu, bagaimana jika perpisahan itu terjadi? Perpisahan adalah sesuatu yang pasti terjadi setelah pertemuan itu terjadi, bukan? Mengapa harus takut, mengapa harus berat, padahal kita tahu konsekuensinya.

Seseorang memberitahuku lagi, masih orang yang sama. Katanya, saat kita berhadapan dengan perpisahan, hal yang harus kita lakukan adalah bersikap biasa saja, karena itu adalah hal pasti yang harus diterima sebagai konsekuensi.

Kita sadar dengan itu, tapi hal yang membuat kita sedih saat perpisahan itu terjadi adalah bagaimana cara pertemuan itu berakhir.

Tidak kita pungkiri, bahwa seringkali perpisahan terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Terjadi di waktu yang tak terduga. Sehingga kita belum bersiap untuk menyambutnya.

Itulah kenapa kalimat 'jangan berlebihan' adalah sesuatu yang benar-benar harus direnungkan.

Tidak, aku bicara bukan berarti tahu akan semua hal, mengalami semua hal yang kubicarakan. Justru terkadang aku sedang mengingatkan diriku sendiri tentang hal yang kutuliskan. Supaya kita sama-sama belajar.

Perpisahan. Sekalipun yang terjadi adalah kematian, suatu perpisahan yang paling menakutkan bagi manusia.

Bahkan kematian bukan perpisahan yang sesungguhnya, karena setelahnya adalah pertemuan abadi yang lahir setelah perpisahan itu terjadi. Keabadian yang hanya hidup dalam kehidupan sesungguhnya. Kehidupan setelah berpulang pada Pemilik Raya.

Apapun yang pernah kita temukan, pada masanya dia akan kita lepaskan.


Aku,
Wangi Tinta.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer