Pilihan?


Suatu saat kita akan dipertemukan dengan sebuah pilihan di mana kita harus melepaskan sesuatu yang telah kita miliki untuk menerima sesuatu yang akan kita miliki sebagai gantinya.

Kita percaya, bukan? Ketika kita melepaskan sesuatu yang kecil, kita akan mendapat ganti yang lebih besar.

Sederhananya, saat kita menggenggam sebuah apel di tangan kanan dan sebuah apel di tangan kiri, lalu ada seseorang yang memberimu kotak besar berisi apel-apel, maka kamu dihadapkan dengan dua pilihan: melepaskan apel di tangan kanan dan kiri atau menerima sekotak apel untuk dibawa oleh kedua tangan.

Karena tangan kita tidak bisa menggenggamnya bersamaan, bukan?

Maka, normalnya adalah kita akan memilih pilihan yang kedua, menerima sekotak apel. Jadi, kita akan melepaskan apel di tangan kanan kiri kita, bukan?

Itulah pembelajarannya.

Manusia memiliki daya penerimaan yang terbatas. Kita tidak bisa makan semua makanan yang terhidang dalam sebuah pertemuan. Ada porsi, selalu ada porsi dalam penerimaan manusia.

Maka, Allah memberikan yang terbaik untuk kita terima.

Jangan menyerah saat apa yang kita miliki harus kita ikhlaskan, karena kemungkinan besar Allah akan memberikan ganti yang lebih baik asal kita tetap mau berusaha.

Untuk itu, doa yang baik adalah ketika kita meminta yang terbaik, bukan memaksa diberi apa yang kita inginkan. Karena Allah yang Maha Tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah : 216)

Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah, jangan hanya karena sesuatu yang kita inginkan tidak dipenuhi, lalu kita berburuk sangka pada Allah. Padahal Allah yang Maha Tahu segalanya.

Allah menjawab doa kita dengan tiga opsi:
1. Ya
2. Mengganti dengan yang lebih baik
3. Dihindarkan dari musibah

Sesuatu yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Hei! Ingat, kita tidak bisa melihat masa depan, bukan?

Berbaik sangka adalah pilihan terbaik. Karena orang-orang optimis adalah orang-orang yang percaya keajaiban Tuhan.

Kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang ditakdirkan untuk kita. Karenanya, kita tidak memiliki pilihan untuk berhenti, untuk menyerah.

Teman, apa yang kita pikirkan memengaruhi apa yang akan terjadi. Berpikirlah yang baik, maka sesuatu yang baik akan kita dapatkan.

Jangan menyerah, jangan berhenti. Semua orang pernah tertunda keinginannya atau bahkan harus pindah 'rumah' (pilihan). Semua orang lelah, semua orang pernah kecewa, semua pernah dihadapkan dengan pilihan yang sulit, semua orang pernah mendapatkan ujian yang berat. Dan semua orang boleh menangis.

Menangislah untuk kemudian tersenyum. Jatuhlah untuk kemudian memantul lebih tinggi.

Hidup kita tergantung bagaimana kita. Kesedihan kita adalah pilihan kita, kebahagiaan kita adalah pilihan kita. Tinggal apa yang kita pilih. Setuju?

Bukankah saat kita melihat orang yang menurut kita paling tidak beruntung, tahu-tahu ada yang lebih tidak beruntung lagi? Itulah letak keterbatasan kita sebagai manusia. Kita bahkan tidak bisa melihat semua yang nyata, yang ada di muka bumi. Apalagi melihat masa yang belum nyata? Bagaimana bisa kita melihat masa depan? Hanya Allah yang tahu.

Merendahlah bahwa kita hanya manusia biasa. Hanya setetes dari seluruh air di dunia. Bahkan kita tidak bisa menyebutkan angka yang berada di antara 0 dan 1, bukan?

Betapa tak tahu dirinya jika kita berburuk sangka pada Allah, padahal kita bukan siapa-siapa, sekalipun kita dianggap 'SIAPA' oleh seluruh manusia.

Mendekatlah kepada Allah, jauhkan buruk sangka dari hati kita, memohonlah dan terus berusaha. Maka kebaikan-kebaikan itu akan datang atas izinNya.

Tidak ada tempat peraduan yang lebih baik selain mengadu kepada Allah SWT.

Aku,
Wangi Tinta


Komentar

Postingan Populer