Kereta Pulang
Kita saling menyapa, saling bertukar senyum tapi tak sempat bertukar nama.
Tapi tak apa, karena mungkin baiknya begini. Tak saling kenal, tapi pernah bertukar pikiran.
Aku bertemu dengannya di sebuah perjalanan pulang. Pulang dari kelelahan untuk menepi sebentar. Menikmati suasana hati yang lebih tenang.
Dia cantik, kulitnya bersih, tapi sederhana karena tak bermake up. Sesekali aku memperhatikan tanganku dan tangannya, berbeda. Kulitku terlihat lebih kusam, tapi tak apa, setidaknya yang membuat wanita cantik adalah keramahan dan kesederhanaannya.
Kami bercerita tentang masing-masing, mengetahui hal yang sebelumnya belum kuketahui. Pun dia sama, mengetahui hal dariku yang belum ia ketahui.
Ia menyenangkan karena tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan orang yang terlihat sangat pendiam sepertiku. Mungkin karena dia hampir mirip denganku. Berkacamata juga, mungkin ia juga suka membaca buku. Dia tak bermake up, sama sepertiku. Juga tak berpakaian modis. Mungkin itu yang membuat obrolan kami cair. Karena kesederhanaan yang mempertemukan setiap kalimat yang kami ucapkan.
Ia bertanya mengapa banyak sekali orang yang abai pada sekitar. Orang-orang yang terlihat bahagia dengan kawan-kawan mereka. Tapi, melupakan orang-orang yang dalam hatinya ingin memiliki tawa yang sama.
Aku terdiam beberapa saat. Karena pertanyaan seperti itu perlu dipikirkan bukan? Tapi, aku salah, karena ternyata ia tak bertanya padaku, tapi pada dirinya sendiri yang kemudian ia jawab sendiri pertanyaannya itu.
Ia bilang, "Ketika aku pulang kuliah dan berjalan menuju kosan, aku melihat ramainya pejalan kaki dengan topi lusuh mereka. Di Ibu Kota Provinsi, ternyata kehidupan tak seimbang sama sekali. Karena yang kaya makin kaya, dan yang miskin teraniaya. Aku tak bisa menghakimi, tapi hatiku bisa. Orang-orang di dalam limusin mengeluh terjebak macet, sedangkan pejalan kaki itu sudah biasa tersengat matahari dan terperangkap dalam debu polusi kendaraan orang-orang itu. Mengapa orang-orang di dalam limusin itu terus mengeluh. Tapi, ternyata semakin aku mencari jawaban, semakin aku bertemu kenyataan pahitnya. Bahwa orang-orang baik memang ada di bumi, tapi yang peduli tak sebanyak yang kukira."
Aku berusaha menanggapi kalimatnya, "Dan yang ikhlas tak sebanyak yang kukira."
Aku menatap jendela, sebentar lagi ia akan turun di stasiun tujuannya, dan aku masih harus melanjutkan perjalanan.
"Ada yang ingin kusampaikan pada setiap manusia yang kutemui, bahwa menjadi baik tak harus memiliki uang. Karena tak selamanya orang-orang yang bersedih itu membutuhkan uang. Sekalipun kenyataan memang membuat kita harus memiliki uang."
Aku terdiam, pandangannya menerawang.
"Kau tahu?"
"Apa?"
"Kenyataan menyakitkan itu berasal dari diriku sendiri. Karena aku tak bisa melakukan apa-apa yang bisa melenyapkan debu pada tubuh mereka, yang bisa menghalau panas dan hujan terhadap tubuh mereka, yang bisa menghilangkan lapar dan haus mereka. Karena yang bisa kulakukan hanya tersenyum pada mereka saat berjalan meninggalkan mereka. Hanya itu."
Baginya, itu adalah luka. Ia hanya bisa melakukan itu. Sebuah hal yang seharusnya ia sadari bahwa ia telah membantu mereka. Setidaknya saat ia tersenyum, mereka ikut membalas senyum. Bukankah sesuatu yang manis?
Ia tak lagi melanjutkan kalimatnya karena menyadari bahwa sebentar lagi kereta akan berhenti dan menurunkannya.
Lalu, speaker kereta berbunyi bahwa ia harus bersiap turun. Perjalanannya sudah tiba pada tujuan. Sayang sekali. Pertemuan kami sangat singkat, hanya kurang dari satu jam.
Ia mengemasi tas ranselnya, karena memang itu yang ia bawa. Lalu ia mengecek jam tangannya, rupanya kereta tiba tepat waktu.
Aku masih diam memperhatikannya. Lalu, berpikir apa yang harus kulakukan terhadap kalimatnya sejak awal itu. Apa yang harus kukatakan saat ia pamit turun dan meninggalkan kursinya di sebelahku. Apa aku harus tahu namanya? Apa setelah tahu namanya aku akan terus mengingatnya? Seseorang yang kesusahan karena pikirannya sendiri, karena memikirkan nasib orang lain dan ia tak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum.
"Ternyata obrolan kita harus terjeda, aku duluan, ya."
"Iya, hati-hati."
Aku seperti ingin mengatakan sesuatu. Dan, ya, aku mengatakannya tepat saat ia beranjak dari kursi penumpang.
"Tapi, tersenyum bukan tak berarti apa-apa, karena melegakan hati mereka adalah langkah yang terbaik."
Dia tersenyum, lalu berjalan dan semakin menghilang.
Tapi, ada sesuatu yang belum selesai. Apa maksudnya, apa maksud kalimatnya? Obrolan kita akan terjeda? Apa maksudnya jeda? Apakah ia berharap bertemu lagi denganku? Apakah itu adalah sebuah janji bahwa ia akan bertemu lagi denganku?
Ternyata aku tak bisa memutuskan, tapi aku masih mengingat senyumnya sebelum turun dari kereta. Aku akan bertemu lagi dengannya, orang yang sama seperti dirinya. Tak harus dia, karena pasti ada orang lain yang serupa dengannya meski dengan cerita menakjubkan yang berbeda.
Begitulah waktu berperan mencipta takdir-takdir. Pertemuan tak selalu terencana, tapi saat itulah cerita terangkai menjadi pesan yang bisa dimaknai.
Kesederhanaan selalu berada pada tempatnya, tanpa beban. Ia tak pernah masalah dengan menjadi apa adanya.
Aku,
Wangi Tinta



Komentar
Posting Komentar